doa sang pengamenn,,

Beberapa hari yang lalu waktu saya pulang kampung (which is tiap minggu saya lakoni;p), saya dan ibu berjalan-jalan, ceritanya mau belanja beli kostum buat nikahan temen saya beberapa minggu lagi (hehee,,ni pernikahan sobat saya,jadi penting buat saya yang jarang beli kostum ke kondangan ini, buat prepare biar tampil oke di acara tersebut)..

Seperti biasa ibu dan saya berangkot ria, dengan menaiki angkutan menuju Jl. Riau. Di tengah jalan, kami melewati perempatan yang memang “dihuni” oleh sekelompok pengamen. Hampir semua pengamen disitu saya tau (tau loh, bukan berati kenal). Kenapa saya tau? Karena hampir empat taun berkuliah di Kampus gajah Duduk setiap hari saya pasti melewati rute dan perempatan tersebut, jadinya uda tau lah muka-muka pengamen yang mungkin seumuran saya itu.,

Pas angkot berhenti karena lampu merah, dua orang pengamen menghampiri angkot kami dan mulai menyajikan kemampuannya memetik gitar dan bersenandung merdu (ga deng,,lebayy). Saat itu di angkot ada sekitar 5 orang, dengan deskripsi: saya, ibu saya, satu orang ibu muda, dan dua pria berpenampilan mahasiswa, plus sopir berarti 6 orang. Lagu yang dibawakan adalah lagu yang sedang “in” dan memang sering diperdengarkan di radio-radio. “Wah, gaul juga ni pengamen”, batin saya. Kami berlima pun menikmati pertunjukan musik jalanan tersebut dengan sukacita dan riang gembira (halahh,,).

Saat si pengamen hampir menyelesaikan lagunya, saya mengambil dompet kecil tempat menaruh uang receh dan mengambil beberapa keping uang logam untuk kemudian diberikan pada sang pengamen. Biasanya lagu yang hampir selesai akan bertepatan dengan lampu kuning perempatan yang menandakan bahwa lampu sebentar lagi akan berubah menjadi hijau. Dan biasanya saat itulah si pengamen akan menyodorkan wadah kecil tempat menampung uang apresiasi penumpang. Saat itu rupanya hanya saya yang punya recehan dan memasukkan uang kecil itu ke dalam wadah yang sedang disodorkan. Setelah itu biasanya si pengamen akan menghaturkan terima kasih (sungguh, bukan saya mengharap, tapi biasanya emang bgitu) berupa semacam doa, misalnya :”makasih Bu/Pak/Teh/De, semoga lancar perjalanannnya”, atau “makasih Bu/Pak/Teh/De, semoga selamat sampai tujuan”.

Tapiiii,,beberapa saat setelah saya memasukkan recehan ke dalam wadah, yang terucap dari bibirnya adalah

“Makasih Teh, semoga cowonya tambah sayang sama Teteh,,”, sambil senyum ke arah saya….

Hah???saya dan ibu hanya bisa berpandangan dan tertawa terbahak seketika demi mendengar doa yang keluar dari mulut pengamen tersebut. Hahahahahaha,,,,

Doa yang anehhh,,,

3 thoughts on “doa sang pengamenn,,

  1. Budak Gendut………………..Teu boga ideu pisan…………….Wulan teh gendut ayeuna teh?:D

    Ninggali di pesbuk mah, wah…teu kuat uy:P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s